Tampilkan postingan dengan label Sebuah Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Risalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

Music adalah suara Jiwa yang Merdeka

Musik adalah bagian dari kehidupan yang sulit dipisahkan.Dari bangun tidur sampai tidur kembali.helaan dan hembusan nafas.Musik sudah mendarah daging dalam lingkaran waktu manusia.Tak bisa dibayangkan
jika hidup ini hampa alunan lagu dan derai rangkaian indah nada.Mungkin dunia akan meratap,karena sepi telah menelanjangi munafik ramainya.Yang termarjinalkan sudah.

Musik adalah makanan bagi jiwa-jiwa yang "hidup".Musik adalah bahasa rasa.Tak bisa menafikannya begitu saja.Dalam setiap detik dan dentang waktu,musik memberikan rona dalam setiap sendi nafas perasaan,pikiran,dan tindakan.Sebuah keseimbangan harmoni hidup yang indah.

Musik adalah interpretasi jiwa dari individu-individu yang merdeka.Jdi,musik adalah kreatifitas.Dan kreatifitas adalah ketulusan yang bebas.Tak ada tekanan dan aturan-aturan yang dapat memagarinya.Biarkan kreatifitas terbang melayang tinggi ke angkasa pelangi rasa jiwa.

Musik adalah karya seni.Layaknya karya seni yang lain,seperti lukisan,patung,ukiran,tarian,dll.Ia begitu subjektif.Tergantung penafsiran masing-masing orang.Sebuah karya seni dikatakan bagus/bernilai seni tinggi bagi sesseorang,tapi belum tentu bagi orang lain.Dan sebuah penafsiran bersumber dari selera setiap pribadi-pribadi yang berbeda.Jadi kita tidak bisa memaksakan pemaknaan yang sama pada sebuah karya seni.Dan dalam hal ini khususnya adalah musik.

Adanya interpretasi musik yang berbeda-beda adalah sebuah kewajaran.Karena itulah banyak genre/aliran musik yang bermunculan.Mulai dari Rock,Punk,Underground,Pop,Jazz,metal,hip hop,dangdut,sampai dengan musik tradisional/etnik.Demi untuk pemuasan jiwa seseorang.

Lalu........kenapa orang harus mempermasalahkan karya dan selera musik orang lain.Hanya karena merasa musik yang satu di anggap lebih jelek/berkasta rendah daripada musik yang lain.Bukankah standart "bagus" dalam musik begitu subjektif,tak ada standart "objektif" yang dapat mengukurnya.

Bagi para musisi,biarkan mereka menghasilkan sebuah kreatifitas tanpa ada intervensi dan aturan-aturan di luar dirinya,yang bisa mematikan kreatifitasnya tersebut.Biarkan mereka bebas mengekspresikan apa yang ia ingin ungkapkan dalam dirinya.Sehingga menghasilkan karya seni yang tulus.Dan bukan hanya untuk menyenangkan kuping pendengarnya,tapi juga bisa menyentuh jiwa penikmatnya.Dan yang paling penting adalah antara para musisi bisa saling menghargai karya masing-masing.

Dan bagi para penikmat musik.Nikmatilah dan dengarkan musik yang ingin kau dengar.Puaskan dahaga jiwamu.Tapi juga hargailah selera musik orang lain.Karena itu adalah hak pribadi mereka/masing-masing orang.Jika kita tidak suka pada sesuatu bukan berarti kita harus membenci dan antipati pada hal tersebut kan........???!!!

Sekali lagi,hargailah segala perbedaan.Dan syukurilah semua itu.Karena pada dasarnya segala perbedaan itu adalah anugerah.Yang membuat hidup kita lebih berwarna.Dan perbedaan membangun pribadi dan jiwa menjadi lebih "kaya" dan "tangguh".........

Rumi Tentang Musik dan Puisi




Seperti sufi pada umumnya, Rumi bukan hanya seorang pencinta puisi. Tetapi juga seluruh cabang seni seperti musik, tari dan seni rupa. Bagi sufi secara umum seni religius dan kerohanian dapat dijadikan bukan hanya sebagai sarana dakwah, tetapi untuk meningkatkan bobot pengalaman religius dan kerohanian itu sendiri. Dengan kata lain seni sebagai sarana kontemplasi dan meditasi, dan kendaraan naik menuju pengalaman kerohanian yang lebih tinggi. Pada peringkat ini dia berfungsi sebagai pemulihan bagi jiwa manusia. Karena itu tak mengherankan filosof dan dokter seperti Ibn Sina menggunakan musik sebagai sarana pengobatan bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa.


Dalam wawasan estetika sufi, seni sebagai ungkapan jiwa memiliki setidak-tidaknya empat fungsi yang bermanfaat bagi pemulihan jiwa. Pertama, ‘tajarrud’ pembebasan jiwa dari hal-hal yang bersifat duniawi dan kebendaan melalui hal-hal yang bersifat duniawi. Bunyi yang merupakan media musik, kata yang merupakan media puisi, bentuk dan watrna yang merupakan media seni rupa, gerak yang merupakan media tari – berasal dari hal-hal yang duniawi. Namun dapat dijadikan tangga naik menuju pengalaman kerohanian setelah diolah oleh seniman secara estetik dan kreatif. Kedua, “tawajjud” (dari kata wajd yang artinya perjumpaan dalam hati, kekusyukan, ekstase). Seni memberikan kekusyukan sebab itu dapat dijadikan sarana kontemplasi dan meditasi. Ketiga, seni mendidik jiwa manusia untuk mengendalikan dan membimbing perasaan atau emosi menjadi positif. Keempat, seni juga memiliki fungsi sosial. Ia mengikat suatu komunitas dalam kebersamaan. Musik yang melanjutkan semangat perjuangan misalnya dapat meningkatkan dan menyatukan semangat juang suatu komunitas.

Sebagai seorang sufi, Rumi sendiri dikenal seorang pencipta komposisi musik dan lagu, serta seorang koreografer ulung pada zamannya. Beliau mahir meniup nay atau seruling. Alat musik kegemarannya selain seruling adalah rebab, biola, rebana, tabla dan pandura. Bukunya Matsnawi diawali dengan pemaparan “Kisah Lagu Seruling”, yang melambangkan dan mengekspresikan kerinduan para sufi untuk kembali ke kampung halamannya yang abadi di alam ketuhanan. Musik yang indah baginya adalah ungkapan kerinduan seseorang terhadap asal usul kerohaniannya di alam yang sebenarnya tidak jauh dari dirinya.

Menurut Rumi kerinduan segala sesuatu kepada asal-usulnya atau permulaan kejadian dirinya bersifat kudrati. Dalam Mathnawi III:4436-7, beliau menulis:

Hasrat tubuh akan padang hijau dan air memancur
Terbit karena ia (Adam) berasal dari tempat itu (Taman Eden)
Kerinduan jiwa kepada Kehidupan dan Yang Maha Hidup
Terbit karena ia berasal dari Jiwa Abadi

Dalam sajak “Kisah Lagu Seruling” Rumi mengumpamakan kerinduan seorang sufi untuk bersatu dengan Tuhannya sebagai kerinduan suling yang ingin bersatu semula dengan asalnya iaitu batang pokok bambu yang rimbun. Rasa pilu yang terdengar melalu lagu seruling terbit karena kesedaran bahwa ia terpisah jauh dari batang pokok bambu yang merupakan tempatnya yang asal dan sebenar. Hasratnya untuk kembali dan bersatu semula dengan asalnya itu menyebabkan ia tergerak menyampaikan keluh-kesahnya dalam nyanyian yang merdu. Suling atau seruling melambangkan jiwa yang rindu kepada asal-usul kerohaniannya dalam alam metafizik, dan kerinduannya itu dibakar oleh api cinta. Karena dibakar oleh api cinta maka nyanyian indah dan lagu merdu dapat dihasilkan.
Dalam sajak itu Rumi hendak menjelaskan bahwa semua bentuk seni yang indah berasal dari hati seorang seniman yang cinta akan keindahan hakiki dan dari perasaan rindunya yang membara untuk mencapai keindahan tersebut. Melalui lagu atau nyanyian yang disampaikannya itu seseorang berikhtiar mengekpresikan dan merealisasikan dirinya. Dalam bahagian awal “Kisah Lagu Seruling” Rumi menyatakan, bermaksud:

Dengan alunan pilu seruling bambu
Sayu sendu lagunya menusuk kalbu
Sejak ia bercerai dari batang pokok rimbun
Sesaklah hatinya dipenuhi cinta dan kepiluan

Walau dekat tempatnya laguku ini
Tak seorang tahu serta mau mendengar
O kurindu kawan yang mengerti perumpamaan ini
Dan mencampur rohnya dengan rohku

Api cintalah yang membakar diriku
Anggur cintalah yang memberiku cita mengawan
Inginkah kau tahu bagaimana pencinta luka?
Dengar, dengar alunan lagu seruling bambu

Melalui ungkapan “Inginkah kau tahu bagaimana pencinta luka? Dengar, dengar alunan lagu seruling bambu!” Rumi menyatakan bahwa mereka yang ingin mengetahui derita jiwa para sufi, yang membuat ia merindukan Tuhannya, agar mendengar kisah lagu seruling dan memahamkan maknanya. Seruling menyampaikan lagu yang sendu dan pilu, namun indah dan merdu, karena kepiluannya yang mendalam disebabkan terpisah dari asal-usul kerohaniannya.
Kepiluan disebabkan berpisah dengan seseorang atau kampung halaman membuat kerinduan seseorang terbakar, dan rindu merupakan permulaaan dari cinta. Ungkapan ‘api cinta’ yang dinyatakan Rumi dalam sajaknya itu ialah api rindu. Sama seperti halnya cinta, rasa rindu dapat membawa jiwa atau fikiran seseorang terbang jauh melampaui awan gemawan untuk menemui orang yang dirindui atau dicintai. Dalam sajak di atas Rumi sekaligus juga hendak menyatakan bahwa musik atau nyanyian dapat dijadikan media menyampaikan rasa rindu dan media untuk terbang jauh ke alam transendental atau kerohanian.


Dalam sajaknya yang lain Rumi menyatakan bahwa nyanyian yang merdu dan musik keagamaan yang indah dapat menerbitkan perasaan rindu dan cinta bangkit dalam hati pendengarnya. Hal ini dapat terjadi disebabkan lagu keagamaan yang indah dan penuh harmoni dapat membawa ingat jiwa manusia kepada suara-suara yang pernah di dengarnya dalam alam keabadian. Menurut al-Qur`an Adam dan Hawa, yang merupakan nenek moyang umat manusia, pada mulanya bermukim di Taman Firdaus atau Taman Eden yang diliputi oleh keindahan. Di sana mereka akrab sekali dengan lagu-lagu dan suara yang indah. Maka suara musik atau lagu keagamaan yang indah dapat membakar kerinduan jiwa manusia kepada syurga, yang merupakan tempatnya yang asal. Rumi menulis, yang maksudnya:

Nada suling dan puput yang menawan telinga
Dikatakan dari putaran angkasa biru asalnya
Sedangkan iman yang mengatas rantai angan dan cita
Tahu siapa pembuat suara sumbang dan merdu

Kami ialah bahagian dari Adam, bersamanya kami dengar
Lagu indah para malaikat dan serafim
Kenangan kami, walau tolol dan menyedihkan
Sentiasa tertambat pada alunan musik syurga

O, Musik ialah darah dan daging para pencinta
Musik menggetarkan jiwa sehingga terbang ke angkasa
Bara berpijar, api abadi dalam hati semakin berkobar
Kami dengar sentiasa dan hidup dalam ria dan damai

Dalam sajaknya yang lain Rumi menyatakan betapa besarnya pengaruh musik keagamaan kepada jiwa pendengarnya:
.
Gemuruh bunyi terompet dan gedebam suara genderang
Serupa dengan suara gemuruh nafiri alam semesta
Para filosof berkata keselarasan ini dari perputaran angkasa asalnya
Melodi yang dilagukan orang dengan pandura dan kerongkongan
Sesungguhnya ialah suara perputaran angkasa
Para pemeluk agama yang teguh percaya
Pengaruh syurga membuat yang tak menyenangkan menjadi indah
Sejak itulah musik merupakan hidangan para pencinta Tuhan
Karena di dalam musik ada cita rasa ketenteraman jiwa
Apabila jiwa mendengar lagu dan suara seruling
Ia mengumpulkan tenaga dan menjelmakannya ke dalam tindakan
Api cinta semakin berkobar-kobar karena nada lagu yang indah
Seperti semangat orang melemparkan benda berat ke dalam air

Selain dapat membawa pendengarnya ke alam transendental, musik keagamaan dapat memberi ketenangan kepada jiwa dan juga memberi kekuatan, dan dengan demikian keimanan terhadap Sang Kebenaran Tertinggi semakin teguh dan mendalam. Cinta yang mendalam kepada Tuhan dikaitkan dengan tumbuhnya kekuatan batin, dan musik dapat memberi perangsang ke arah itu.

Lagu Seruling

“Lagu Seruling” adalah untaian sajak pembukaan dalam kitab Matsnawi. Dikatakan di dalamnya, bahwa “Setiap orang yang berada di tempat yang jauh dari asalnya, akan merasa rindu untuk kembali ke masa tatkala ia masih bersatu dengannya (asalnya)”. Kerinduan tersebut dilambangkan dengan kerinduan seruling untuk bersatu semula dengan batang pokok bambu. Ungkapan tersebut diilhamkan oleh ayat al-Qur`an, “Inna li` Llah wa inna ilayhi raji`un” (Sesungguhnya dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan).
Ungkapan di atas menjelaskan bahwa asas kewujudan segala sesuatu bersifat spiritual. Manusia ialah makhluq atau ciptaan Tuhan paling indah dan sempurna dilihat dari sudut kerohanian, karena menurut al-Qur`an manusia itu dicipta mengikut surah-Nya (gambar-Nya) dan ke dalam diri manusia Tuhan meniup roh. Berlandaskan kenyataan tersebut maka roh dipandang sebagai hakikat terdalam diri manusia. Maka itu para sufi menyatakan bahwa di dalam roh manusia ada bahagian paling inti yang merupakan rahsia Tuhan (sirr Allah). Dengan itu manusia pertama sekali ialah makhluq spiritual, bukan makhluq jasmani. Yang menentukan kehidupan manusia ialah kerohaniannya.

Rumi juga menyatakan bahwa “Roh tidak terdinding dari tubuh, pun tubuh tidak terdinding dari roh, namun tubuh tidak diperkenankan melihat roh”. Dengan itu roh dan tubuh sebetulnya dekat, tetapi tubuh tidak dapat melihat roh. Ungkapan tersebut didahului dengan ungkapan, “Rahsia laguku tidak jauh tempatnya dari ratapku, namun mana ada telinga mandengar dan mata melihat.” Ini bermakna makna atau rahsia yang tersembunyi dalam lagu sendu seruling bambu tidak dapat difahamkan dengan pemahaman biasa. Ia dapat difahamkan melalui pendengaran dan penglihatan batin (makrifat).

Terbitnya kesedaran jiwa dan roh akan asal-usul kerohaniannya digerakkan oleh Cinta, bukan oleh logika. Kata Rumi, “Inilah api Cinta yang bersemayam dalam seruling bambu, inilah kobaran semangat Cinta yang terkandung dalam anggur”. Seruling bambu merujuk kepada jiwa yang diresap kerinduan mendalam kepada Tuhan, kobaran semangat Cinta dalam anggur merujuk kepada ekstase atau kemabukan mistikal dalam jiwa seorang sufi yang tertawan oleh keindahan-Nya.

Tubuh dan roh merupakan dua entitas yang sesungguhnya bertentangan, namun menjadi satu dalam diri manusia. Karena tubuh dan roh pada dasarnya saling bertentangan, maka pertentangan yang ada dalam jiwa manusia merupakan perkara biasa atau kudrati. Tubuh (hawa nafsu) memandang bahwa lagu kerohanian yang didengar dari suling bambu merupakan racun, tetapi roh atau jiwa yang rindu kepada Yang Haqiqi memandang lagu tersebut sebagai obat penawar atau obat yang dapat menyembuhkan duka disebabkan rindu.Kata Rumi, “Siapa pernah melihat racun dan obat penawarnya sekaligus seperti seruling?”

Demikian menurut Rumi, esensi musik adalah racun dan sekaligus obat penawarnya. Secara hakiki yang disampaikan dalam musik adalah kepiluan dan sekaligus kegembiraan. Terlalu berlebihan mengungkapkan kepiluan atau kesedihan membuat musik jadi sentimental. Terlalu berlebihan mengungkapkan kegembiraan menjadikan musik hanya sebagai ungkapan hura-hura. Fungsinya sebagai pembawa jalan kenaikan atau perenungan menjadi berkurang.

Manfaat Musik dalam Kehidupan Sehari-hari

Musik merupakan simfoni kehidupan, menjadi bagian seni yang mewarnai kehidupan sehari-hari manusia di muka bumi. Tanpa musik dunia sepi, hampa dan monoton karena musik mampu mencairkan suasana, merelaksasi hati serta menstimulasi pikiran manusia sebagai pemeran cerita kehidupan. Musik tak sekedar memberikan efek hiburan, tetapi mampu memberikan makna untuk membangkitkan gairah dan spirit hidup untuk memberdayakan dan memaknai hidup. Mendengarkan musik, menghayati dan menikmatinya merupakan aktivitas yang menyenangkan dan bisa membuat kita nyaman. Efek inilah yang secara medis dan psikologis menimbulkan reaksi positif pada kondisi fisik dan psikis manusia, termasuk  saya dan kita. Lalu apakah manfaat musik yang sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari?
Musik mengalami masa keemasan dalam sejarah peradaban Islam. Dari berbagai literatur yang saya baca, tokoh-tokoh seperti Al – Kindi dan Al – Farabi merupakan ilmuwan yang mengembangkan musik sebagai terapi. Pada abad ke- 9, Al – Kindi sudah mencoba menerapkan pengobatan dengan musik kepada seorang anak yang lumpuh total. Selanjutnya, pemanfaatan musik sebagai terapi berkembang pesat di era kejayaan Turki Usmani. Pengembangan terapi musik ini terus berlanjut hingga menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Efek musik begitu signifikan dalam upaya menyembuhkan, menyehatkan dan mencerdaskan pribadi manusia. Oleh karena itu, manfaat musik dalam kehidupan begitu simultan dengan aspek kesehatan fisik, psikologis dan kecerdasan manusia, terutama yang dikembangkan melalui terapi musik.
Ada beberapa manfaat musik berkaiatan dengan keseharian kita dan penggunaannya sebagai terapi.
Pertama, musik bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh kita karena musik ternyata bersifat terapeutik dan bersifat menyembuhkan. Menurut Campbel, musik mampu menghasilkan stimulan yang bersifat ritmis. Stimualan ini kemudian ditangkap oleh pendengaran kita dan diolah di dalam sistem saraf tubuh serta kelenjar otak yang mereorganisasikan interpretasi bunyi ke dalam ritme internal pendengarnya. Ritme internal ini mempengaruhi metabolisme tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih baik. Metabolisme yang lebih baik akan mengakibatkan tubuh mampu membangun sistem kekebalan yang lebih baik. Dengan sistem kekebalaan yang lebih baik, tubuh menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit.

Kedua, musik dapat meningkatkan intelegensi karena rangsangan ritmis mampu meningkatkan fungsi kerja otak kita. Ritme internal yang dihasilkan musik membuat saraf-saraf otak bekerja, rasa nyaman dan tenang yang distimulasi musik membuat fungsi kerja otak bekerja optimal. Bila hal ini sering dilakukan, fungsi kerja otak kita akan semakin prima, sehingga kemampuan berpikir kita lebih jernih dan tajam, serta bisa mencegah kepikunan (alzheimer). Perlu kita ketahui bahwa bagian kanan otak kita berkaitan dengan kecerdasan dan perkembangan artistik dan kreatif, bahasa, musik, imajinasi, warna, pengenalan diri, sosialisasi dan pengembangan kepribadian. Karena itu, rangsangan ritmis dari musik yang diperdengarkan juga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, meningkatkan kreativitas, serta meningkatkan konsentrasi dan daya ingat kita.

Ketiga, musik bisa menimbulkan reaksi psikologis yang dapat mengubah suasana hati dan kondisi emosi, sehingga musik bermanfaat sebagai relaksasi yang dapat menghilangkan stress, mengatasi kecemasan, memperbaiki mood dan menumbuhkan kesadaran spiritual. Sebagai sebuah bentuk seni, musik tak hanya menciptakan harmoni nada yang enak didengar, tetapi juga memberikan kesan indah yang mampu menggugah dan mengantarkan manusia pada kesadaran yang dalam dan penuh, menelusuri lorong-lorong hampa dalam ketidakberdayaan harapan. Kesadaran akan fitrah kemanusiaan yang tak bisa lepas dari masalah, kesadaran akan keberadaan kekuatan Yang Maha Sempurna, sehingga timbul kepasrahan untuk berserah kepada-Nya. Penyerahan diri inilah yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan beban pikiran dan perasaan yang menekan. Rangsangan ritmis yang dihasilkan musik mampu membuat pikiran rileks, serta menimbulkan perasaan-perasaan positif , tenang, nyaman dan optimis bahkan bahagia.
Keempat, musik bermanfaat sebagai alat dan media komunikasi antarmanusia karena musik merupakan bahasa universal yang mampu memadukan perbedaan, menciptakan perdamaian dan solidaritas kemanusiaan. Sejarah sering kali mencatatkan peran dan manfaat musik sebagai sarana pergaulan dan media komunikasi yang bisa dipahami semua orang, sekalipun kita tidak memahami bahasa tiap-tiap bangsa. Dalam kehidupan nyata sehari-hari pun, musik sering kali menjadi alat komunikasi dengan orang yang kita cintai, mewakili perasaan hati, ungkapan kerinduan bahkan kemarahan.
Berkaitan dengan manfaat musik tersebut,  jenis-jenis musik juga sangat mempengaruhi manfaat yang dirasakan setiap orang, khususnya bagi yang menjalani terapi musik. Bagi saya, mendengarkan atau bermain musik sendiri, sebenarnya bisa menjadi terapi, terutama ketika saya mengalami kejenuhan, bosan, bad mood alias bete. Musik bisa memunculkan kembali semangat dan motivasi untuk melakukan sesuatu yang berguna. Dengan musik, kita tidak saja mampu menghayati dan meresapi alunan nadanya, tetapi juga mampu memahami diri dan orang lain di sekitar kita, serta menghayati esensi hidup yang sebenarnya.amin.

Pertunjukan Musik yang Indah...

Seperti berada di sebuah panggung "orchestra" dengan alat musik masing-masing yang harus dimainkan, demikianlah hidup kita. Manusia dengan hidupnya sebagai musisi dengan alat musiknya, dan dunia ini adalah panggungnya. Alat musik yang berbeda, suara musik yang berbeda, pemusik yang berbeda dan masing-masing memainkan yang menjadi kesukaannya, tapi bersatu menjadi nada-nada yang indah ketika para pemainnya mau diatur Sang Dirigen sebagai pemimpin yang mengarahkan alur permainannya.
Alunan musik yang indah berbicara tentang tiga hal, yang pertama tentang bagaimana seorang musisi menguasai bagaimana cara memainkan alat musiknya dengan baik dan benar. Yang kedua, bagaimana ia bisa menyatukan suara alat musiknya dengan suara alat musik musisi-musisi lain, dan yang terakhir sekaligus yang terpenting adalah bagaimana pandangan dan gerakan semua musisi yang berada di panggung dapat mengikuti arahan tangan Sang Dirigen dengan baik dan benar. 

Sama halnya dengan cara membuat suatu pertunjukan musik menjadi indah, begitu juga kita bisa membuat ”pertunjukan hidup” kita menjadi indah. Bagaimana kita menghidupinya adalah sama seperti bagaimana kita memainkan alat musik. Kita harus mengenalnya dan menguasainya. Kita tahu bahwa gitar tidak bisa asal dipetik, piano tidak bisa asal ditekan, drum tidak bisa asal dipukul, suling tidak bisa asal ditiup, begitu pula dengan alat-alat musik lain. Ya, dengan begitu kita harus sadar dan bisa menerima bahwa untuk menghidupi hidup kita masing-masing. Awalnya memang tidak mudah, kita harus mau berlatih memainkannya, butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh sebuah semangat yang tidak pernah menyerah sampai kita bisa memainkannya bahkan menguasainya. Tidak bisa asal-asalan! Itulah hal pertama yang perlu kita sadari.
“Bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku!” 2 Korintus 13 : 11
Hal kedua berbicara tentang bagaimana kita menyatukan suara alat musik kita dengan suara alat musik lain. Ketika semua musisi berdiri dalam satu panggung, mereka harus bisa bekerjasama menyatukan perbedaan yang ada di dalam diri mereka. Bisa dibayangkan bagaimana kekacauan yang terjadi jika sang gitaris memainkan lagu A, sang pianis memainkan lagu B, dan sang drumer memainkan lagu C dalam satu panggung dalam waktu bersamaan. Ya, dalam hidup ini kita harus menyadari bahwa perbedaan kita dengan orang lain adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari dengan memilih menjauhkan diri dari orang-orang yang berbeda dengan kita, tetapi sebaliknya kita harus belajar memilih mendekati perbedaan tersebut dan menyatukannya. Dan ketika harmonisasi itu berhasil, maka kita akan menyadari bahwa perbedaan kita satu dengan yang lain adalah keindahan sesungguhnya. Intinya, kita harus belajar membangun hubungan yang benar dan baik dengan orang lain. Satu hal yang perlu kita ingat adalah tidak ada kemudahan di dalamnya, yang ada adalah proses-proses sulit yang mungkin terjadi dimana kita harus menghadapi perbedaan sikap, karakter, atau bahkan kelemahan orang lain yang sulit kita terima, tetapi ketika kita bisa mengatasinya, maka keindahannya cukup membayar segala kesulitan yang pernah kita alami. 

Hal terakhir sekaligus yang terpenting adalah bagaimana para musisi bisa menyatukan permainannya dengan arahan Sang Dirigen. Bayangkan jika mereka tidak memfokuskan matanya kepada arahan Sang Dirigen, bayangkan jika Sang Dirigen menginstruksikan agar yang seorang berhenti tetapi ia tidak berhenti, atau yang seorang memulai tetapi ia tidak memulai karena tidak memperhatikan atau mengindahkan arahannya. Apakah musisi itu bisa dikatakan berhasil? Ia tidak hanya mengancam keberhasilannya, tetapi juga orang-orang yang satu panggung bersamanya. Ia tidak membuat keindahan, tetapi ia sebaliknya menimbulkan kekacauan. Ya, begitu pula hidup kita ini jika kita melepaskan pandangan kita dari Tuhan, Sang Dirigen kehidupan kita jika kita tidak mengindahkan arahanNya kepada kita untuk menjalani hidup ini dengan benar. Tuhan adalah Pemimpin kita, sama seperti seorang dirigen yang tahu bagaimana mengatur alunan musik menjadi indah, begitu pula Tuhan. Hanya Ia yang tahu bagaimana mengatur hidup kita agar bisa membuatnya menjadi yang indah, baik bagi kita, orang lain, maupun bagiNya. Tetapi semuanya itu dikembalikan kepada keputusan kita masing-masing, apakah kita mau dipimpin olehNya atau tidak? Keputusan, komitmen, dan kesetiaan kitalah yang akan menjawabnya.

Senin, 09 Agustus 2010

Faith For Today and Hope For Tomorrow

Finding the place to start writing about any topic is difficult for me. But when it's about my own life (to this point), I find the task even that much more difficult. Does one start from the 'beginning' or just jump into the middle of the story?

I've known that I wanted to share my 'story' with others for quite some time. My wife beat me to the task and wrote her own condensed autobiography before I did. However, the success of her story in spreading hope to others has encouraged me to finally tell mine. I share it to encourage those who have gone through the same and those who will.

Our lives are lyrics written by God; Paintings created by God; poems rhymed by God. This is the Poem of My Life.

Violin

She cried for all the broken hearts,
Painted everlasting winters –
Floral patterns etched in ice;
A frozen tear to
Soften up the bastard bones.

Bow made love to needy string
In cooing fling – wanton whispers
Fondled under pianissimos,
Caressing callous hearts.

Melodrama swayed in satin sound
– Yet the player wasn’t there,
Only creamy song, soothing, yearning,
Teasing bitter minds.

I sensed her persevering loneliness
For beauty of an evening:
Romance of a tune; laughing,
Sobbing at the fire.

Then a climax –
Writhing passion cutting deep –
Wounding macho flesh,

And all in a work of musical art:
Ephemeral stories, yarned of music
Honed impossibly through her tones.

Beautiful


I am beautiful
Not only because of the curve of my hips
Or the shape of my body
Not only because of the fullness of my lips
Or the curl of my eye lashes

I am beautiful because I want to be
I am beautiful because God made me that way
I am beautiful because in my eyes
There is no one more beautiful than me

I am beautiful because I have a heart
And that is a beautiful thing
I am beautiful because I have a brain
And that is a beautiful thing
I am beautiful because I give advice
And that is a beautiful thing

I am beautiful because I want to be
I am beautiful because God made me that way
I am beautiful because in my eyes
There is no one more beautiful than me

I am beautiful because I have confidence
I am beautiful because I have determination and wit
I am beautiful because I have goals and I plan to reach them
I am beautiful because I am always there to lend a helping hand

I am beautiful because I want to be
I am beautiful because God made me that way
I am beautiful because in my eyes
There is no one more beautiful than me