Tampilkan postingan dengan label pengembangan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengembangan diri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 April 2010

CINTA MENURUT PANDANGAN ISLAM

Cinta dalam pandangan Islam adalah suatu hal yang sakral. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullah menganjurkan agar cinta tersebut diutarakan.

Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa ia mencintainya. (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy). Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling mencintai, bahkan dianjurkan agar mendapat keutamaan-keutamaan. Islam tidak membelenggu cinta, karena itu Islam menyediakan penyaluran untuk itu (misalnya lembaga pernikahan) dimana sepasang manusia diberikan kebebasan untuk bercinta.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang, (Ar-Ruum: 21)

Ayat di atas merupakan jaminan bahwa cinta dan kasih sayang akan Allah tumbuhkan dalam hati pasangan yang bersatu karena Allah (setelah menikah). Jadi tak perlu menunggu jatuh cinta dulu baru berani menikah, atau pacaran dulu baru menikah sehingga yang menyatukan adalah si syetan durjana (naudzubillahi min zalik). Jadi Islam jelas memberikan batasan-batasan, sehingga nantinya tidak timbul fenomena kerusakan pergaulan di masyarakat.

Dalam Islam ada peringkat-peringkat cinta, siapa yang harus didahulukan/ diutamakan dan siapa/apa yang harus diakhirkan. Tidak boleh kita menyetarakan semuanya. Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (Al-Baqarah: 165)

Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, seorang ulama di abad ke-7, ada enam peringkat cinta (maratibul-mahabah), yaitu:

1. Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi/paling agung adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata.
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Rabbul alamiin. Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (S.2: 165) Jadi ungkapan-ungkapan seperti: Kau selalu di hatiku, bersemi di dalam qalbu atau Kusebutkan namamu di setiap detak jantungku, Cintaku hanya untukmu, dll selayaknya ditujukan kepada Allah. Karena Dialah yang memberikan kita segala nikmat/kebaikan sejak kita dilahirkan, bahkan sejak dalam rahim ibu. Jangan terbalik, baru dikasih secuil cinta dan kenikmatan sama si doi kita sudah mau menyerahkan jiwa raga kepadanya yang merupakan hak Allah. Lupa kepada Pemberi Nikmat, Maka nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu semua dari Allah (S. 2: 165).
2. Peringkat ke-2; isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah saw. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll, namun bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi saw) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. (Ali Imran: 31)
3. Peringkat ke-3; syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami istri, anatar orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah.
4. Peringkat ke-4; shababah yaitu cinta sesama muslim yang melahirkan ukhuwah Islamiyah.
5. Peringkat ke-5; ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, berdakwah, dll.
6. Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta/keinginan kepada selain manusia: harta benda. Namun keinginan ini sebatas intifa (pendayagunaan/pemanfaatan
).

HUBUNGAN CINTA DAN KEIMANAN

Dalam Islam cinta dan keimanan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Cinta yang dilandasi iman akan membawa seseorang kepada kemuliaan sebaliknya cinta yang tidak dilandasi iman akan menjatuhkan seseorang ke jurang kehinaan. Cinta dan keimanan laksana dua sayap burung. Al Ustadz Imam Hasan Al Banna mengatakan bahwa dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan. Bagaimana tidak, jikalau iman tanpa cinta akan pincang, dan cinta tanpa iman akan jatuh ke jurang kehinaan. Selain itu iman tidak akan terasa lezat tanpa cinta dan sebaliknya cinta pun tak lezat tanpa iman. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw: Barang siapa ingin memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah swt. (riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah).

Tidak heran ketika Uqbah bin Al Harits telah bercerai dengan istri yang sangat dicintainya Ummu Yahya, atas persetujuan Rasulullah saw hanya karena pengakuan seorang wanita tua bahwa ia telah menyusukan pasangan suami istri itu di saat mereka masih bayi. Allah mengharamkan pernikahan saudara sesusuan. Demikian pula kecintaan Abdullah bin Abu Bakar kepada istrinya, yang terkenal kecantikannya, keluhuran budinya dan keagungan akhlaknya. Ketika ayahnya mengamati bahwa kecintaannya tersebut telah melalaikan Abdullah dalam berjihad di jalan Allah dan memerintahkan untuk menceraikan istrinya tsb. Pemuda Abdullah memandang perintah tsb dengan kaca mata iman, sehingga dia rela menceraikan belahan jiwanya tsb demi mempererat kembali cintanya kepada Allah. Subhanallah, pasangan tersebut telah bersatu karena Allah, saling mencinta karena Allah, bahkan telah bercinta karena Allah, namun mereka juga rela berpisah karena Allah. Cinta kepada Allah di atas segalanya. Bagaimana halnya dengan pasangan yang terlanjur jatuh cinta, atau yang berpacaran atau sudah bercinta sebelum menikah? Hanya ada dua jalan; bersegeralah menikah atau berpisah karena Allah, niscaya akan terasa lezat dan manisnya iman. Dan janganlah mencintai si dia lebih dari pada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dari Anas ra, dari nabi saw, beliau bersabda: Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api. (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Abu Hurairah ra, rasulullah saw bersabda:
Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai (HR Muslim).

Semoga tulisan bisa memberikan manfaat bagi kita semua...............salam dari insan yang ber-Madzhabkan Cinta.

JADIKAN RINTANGAN SEBAGAI PELAJARAN HIDUP KITA

Kita harus menyadari betul bahwa apa pun kondisi yang kita hadapi, kesulitan akan selalu ada. Siapa yang kuat menghadapinya maka dia akan menjadi pemenangnya. semua yang telah saya hadapi, memberikan satu titik terang dimana rasa percaya diri dalam menghadapi segala permasalahan maupun kesulitan akan membawa dampak yang berarti dikemudian hari. Hanya saja waktunya yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya.

Letakan Permasalahan itu Pada Tempatnya
Sebenarnya kunci dari kekuatan seseorang dalam menghadapi beragam masalah terletak pada kemampuannya memahami masalah itu dengan cara yang realistis, praktis dan pandangan yang positif. Lalu bagaimana menciptakannya ?, salah satu caranya adalah dengan menerapkan beberapa hal yang diuraikan berikut ini:

Masalah adalah satu ciri dari orang hidup. Kasarnya, jika Anda tidak ingin mempunyai masalah berarti Anda menginginkan kematian. Jangan menganggap bahwa kekayaan, posisi yang bagus atau lingkungan kehidupan yang high class menandakan bahwa Anda tidak mempunyai masalah. Sebuah pandangan salah jika Anda berpikiran seperti itu. Masalah bisa timbul kapan saja, bisa datang pada siapa saja, dan bisa diselesaikan dengan beragam cara. Tidak semua orang sama menyelesaikan masalahnya dalam permasalahan yang serupa. Semua tergantung pada pola pemikirannya.

Setiap masalah pasti akan berakhir
Saat tersulit adalah saat di mana kita berhadapan dengan masalah. Tapi tidak akan menjadikan stress bagi si pemilik masalah itu, jika dia bisa menelaah akar permasalahan yang dihadapinya. Toh, solusi bisa diambil jika tahu masalah sebenarnya itu apa. Menghadapi masalah akan sangat menguras tenaga dan pikiran. Semua terkuras untuk menemukan jalan keluarnya. Jelas memang, tak ada seorang pun bisa bebas dari yang namanya masalah. Adalah kebohongan jika siapa pun dia mengaku kalau dia tidak pernah bermasalah. Itulah yang dinamakan kehidupan penuh ilusi dan khayalan. Saat-saat seperti inilah dituntut kekuatan emosi dan mental hingga tidak salah dalam menetapkan keputusan. Ada perasaan yang tidak enak, gelisah, bahkan cenderung pada pola-pola pemikiran yang tidak baik saat masalah yang dihadapi tidak kunjung memberikan solusi.

Cobalah merenung, cari sedalam-dalamnya apa konteks permasalahan itu. Selama perenungan itu, hindarilah konteks dengan orang yang membuat masalah. Semisal jika Anda berselisih paham dengan pasangan Anda, jika memang pasangan Anda menginginkan dia berdiam diri dulu atau tidak mau diganggu. Cobalah menghargai keinginannya. Anda jangan mendesaknya! Biarkan sampai emosi masing-masing pihak mereda, hingga saat pertemuan terhindar dari perkataan-perkataan yang menambah runcing permasalahan.

Hidup adalah pilihan dengan beragam konsekuensinya, dan masalah adalah bagian konsekuensi yang di Semua tergantung dari para pelakunya. Namun jangan pernah sekali pun menyalahkan kondisi atau siapa pun akan kehadiran masalah dalam hidup ini, sebab sebesar apa pun masalah pasti akan ada penyelesaiannya sekali pun itu menyakitkan. Yang jelas selalu ada hikmah di dalamnya.

Jika Anda siap menghadapi kehidupan berarti Anda siap menghadapi masalah. Berarti juga Anda meyakini bahwa masalah atau masa-masa sulit tidak akan pernah berakhir dari kehidupan, namun yakinkan diri bahwa jika bersabar, dan giat pasti permasalahan itu akan berhasil teratasi.


semoga bermanfaat.

Motivasi ibaratkan sebuah kendaraan

Motivasi, sebuah kata menarik yang ingin selalu dikondisikan orang lain dalam bertindak menggapai semua impian. Tanpa motivasi semua seolah menjadi statis dan berhenti pada satu titik saja. Ibarat sebuah perjalanan hidup motivasi adalah sebuah kendaraan untuk mencapai sebuah titik impian yang diinginkan. Tanpa itu semua, perjalanan mencapai impian tidak secepat bila tanpa motivasi.

Lantas mengapa seseorang bisa menjadi tidak termotivasi lagi untuk mewujudkan mimpinya? Adakah kesalahan yang terjadi pada kita ketika kita menjalaninya. Ibarat sebuah kendaraan, motivasi harus terus dirawat oleh pemiliknya. Sebab tanpa perawatan, sewaktu-waktu akan pudar dan hilang begitu saja. Cara tepat untuk merawat motivasi adalah bersahabat dengan orang yang tepat. Sahabat yang tepat akan terus mengingatkan kita pada rel yang ada. Maka pilihalah sahabat yang tepat untuk merawat motivasi kita.

Layaknya kendaraan motivasi juga harus diisi oleh bahan bakar yang tepat. Karena bila tidak diisi bagaimana mungkin motivasi dapat terus berjalan? Bahan bakar yang tepat untuk memotivasi diri kita ada berbagai macam cara, tergantung bagaimana orang itu bisa merasa terus terbakar. Ada yang menggunakan medium bacaan (baik itu buku, majalah, acara TV, website atau blog seperti yang anda baca saat ini.), bagi orang yang senang mendengarkan, medium Audio CD dan Radio bisa dijadikan sebuah pilihan, sedangkan bagi anda yang senang sekali belajar hal baru, maka seminar bisa dijadikan cara untuk membakar diri dengan semangat dan motivasi. Apapun bentuknya item-item diatas adalah bahan bakar ketika kita berada pada satu titik down.

Seperti halnya kendaraan yang akan harus diganti pada masanya, maka motivasipun harus siap kita gantikan ketika sebuah tujuan yang kita impikan sudah tercapai. Menggantinyapun harus sesuai dengan kebutuhan motivasi yang kita inginkan untuk mencapai mimpi baru di masa mendatang. Jadi tidak ada salahnya merubah sebuah motivasi, bila memang itu adalah saat yang tepat untuk menggantinya.

Terakhir, ibarat sebuah kendaraan yang dikemudikan oleh seorang pengemudi, maka baik buruknya jalan mencapai impian semua tergantung pada diri kita. Sebab pada dasarnya semua tergantung dari kita dan bukan tergantung dari orang lain.

Itulah sebuah gambaran motivasi = kendaraan. Sekarang bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengelola motivasi layaknya kendaraan yang kita rawat dan kita sayangi????????????



taken by: http://www.motivasihidup.com/2009/02/motivasi-kendaraan.html

Minggu, 04 April 2010

Semut Sang Pemberi Pelajaran

Semut merupakan binatang yang memiliki ukuran fisik/tubuh kecil. Semua orang pasti mengenal semut serta kebiasaan-kebiasaannya. Ada banyak jenis semut yang hidup di dunia ini. Entah ada berapa puluh jenis bahkan mungkin bisa ratusan atau mungkin ribuan, saya tidak tahu. Semut biasanya tinggal di tempat-tempat yang ada sumber makanannya. Hal itu wajar, karena jika tidak ada sumber makanan, maka mungkin mereka akan kelaparan.

Walaupun semut memiliki ukuran fisik yang kecil, tetapi mereka bisa memberikan pelajaran berharga bagi manusia. Seandainya kita bisa mengerti bahasa mereka seperti Nabi Sulaiman Alaihi Salam, mungkin kita akan tahu apa yang mereka bicarakan. Sebagai manusia yang awam, saya mempunyai analisa sendiri tentang kebiasaan semut-semut itu. Semua ini hanya saya sandarkan pada kebodohan dan kejahilan diri saya.

Beberapa hal yang bisa saya ambil hikmah dari kebiasaan-kebiasaan semut ini, diantaranya :

1. Semut biasanya pada saat berpapasan akan berhenti sejenak dengan kepala yang saling berdekatan.

Kebiasaan semut berhenti sejenak dalam berpapasan dan saling mendekatkan kepalanya, ini memberikan pelajaran pada kita bahwa bertegur sapa adalah hal yang mulia. Hendaknya kita memberikan salam kepada siapa pun yang berpapasan dengan kita, menegur dengan suara lembut dan memberikan senyuman dengan penuh keikhlasan. Saling mendo’akan ketika bertemu dengan orang lain akan membuat kita berada dalam keberkahan. Orang sunda bilang dalam kiasannya “bahasa mah henteu meuli” atau dalam bahasa Indonesianya “bahasa itu enggak beli” alias gratis. Jadi apa yang membuat diri kita susah untuk bertegur sapa atau hanya sekedar mengucapkan salam dengan orang yang berpapasan dengan kita?

2. Biasanya semut berjalan pada arah yang sejalan atau sepertinya punya jalur khusus untuk rute perjalanannya.

Kebiasaan semut berjalan pada jalurnya, mungkin hal ini sebagai isyarat bagi kita agar selalu berjalan pada arah yang telah ditentukan. Jalan ini tentu saja jalan kebenaran sebagai jalur hidup kita. Jika kita keluar jalur, hal ini akan membuat diri kita salah jalan yang akhirnya tidak tahu kemana arah kita sesungguhnya. Tetapi dengan jalur yang benar, maka akan membuat kita sampai pada tujuan dengan selamat. Tapi siapakah yang memberi jalan semut-semut tersebut, apakah sang raja semut atau siapa? Yang pasti bahwa pemberi jalan buat manusia hanyalah Allah Ta’ala.

3. Pada saat salah satu semut menemukan makanan, secara otomatis teman-temannya berdatangan dengan cepatnya.

Kita sering melihat jika ada makanan yang berserakan maupun makanan yang tersimpan rapi. Maka, jika ada satu semut menemukannya, maka pasukannya akan segera berdatangan. Lalu bagaimana semut-semut itu tiba-tiba berdatangan dengan cepatnya. Kita tidak mengetahui bagaimana itu terjadi, apakah dengan bahasanya mereka menyuarakan bahwa ada makanan atau bagaimana? Allahu ‘Alam.

Apapun yang terjadi kepada mereka kita tidaklah mengetahuinya, yang penting ada satu pelajaran berharga yang bisa kita sikapi. Pada saat satu semut menemukan makanan, maka yang lainnya datang. Hal ini memberi pelajaran kepada kita, seandainya kita punya makanan, alangkah baiknya kalau tetangga dan sanak saudara kita juga ikut kebagian menikmatinya. Kita tidak boleh berbuat kikir sehingga tetangga kita kelaparan. Janganlah kita memakan sendiri apa yang kita dapat melainkan untuk bisa saling berbagi, saling memberi dan saling membahagiakan.

4. Kebiasaan semut membawa makanan ke sarangnya pada saat menemukan makanan.

Salah satu kebiasaan unik lainnya adalah membawa makanan ke sarangnya. Terkadang makanan yang besar ia bawa secara gotong royong sampai ke sarangnya. Dan untuk makanan yang kecil, mereka bawa sendiri-sendiri ke sarangnya tanpa mampir dulu di jalan untuk menikmatinya sendiri terlebih dahulu. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kebiasaan semut yang satu ini.

Pertama, sifat kegotong royongan mereka yang begitu tinggi. dimana ada pekerjaan yang besar dan menyangkut kepentingan bersama, mereka bahu membahu melakukannya dengan tidak mengenal lelah. Mereka tetap membawa makanan berharga itu walaupun mungkin perutnya lapar. Mungkin mereka pikir akan terasa indah bila bisa menikmatinya bersama-sama dalam sarangnya.

Kedua, sifat kesetiakawanan mereka yang luar biasa, ketika ada yang memerlukan bantuan mereka dengan cepat membantu rekannya yang sedang ditimpa kesusahan, yaitu pada saat menanggung beban berat. Mereka tidak duduk manis sambil menonton temannya berjuang keras dalam menghadapi permasalahannya. Begitu juga dengan kita, hendaknya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan. Sehingga kita tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain dan senantiasa kita selalu menjaga sikap kesetiakawanan kita.

Ketiga, sifat kejujuran yang mereka tanamkan, makanan kecil yang ia bawa, bisa saja ia bawa lari sendiri dan menikmatinya sendiri. Akan tetapi kita sering melihat mereka tetap membawa makanan kecil secara teratur ke sarangnya. Hikmah yang bisa ambil dari hal ini adalah kita seharusnya bersikap jujur pada saat kita dititipi amanah. Jangan menguranginya apalagi tidak menyampaikannya.

Keempat, belas kasihan diantara sesama mereka, apa yang mereka bawa mungkin saja ada semut yang sedang sakit sehingga memerlukan makanan atau ada semut-semut kecil yang baru tumbuh dan menginginkan makanan untuk pertumbuhannya. Begitupun dengan manusia, apabila ada Saudara kita yang kelaparan, maka selayaknyalah kita memberikan apapun yang kita punya agar rasa lapar mereka hilang.

Kelima, persembahan untuk sang Raja, kita tidak tahu apakah mereka melakukan hal itu (membawa makanan ke sarangnya) karena ingin mempersembahkan makanan tersebut pada sang Raja atau bagaimana. Kalaupun ia, maka disinilah mereka memberikan pelajaran pada kita bahwa kita harus mempersembahkan yang terbaik pada Sang Khalik. Persembahan kita kepada Sang Khalik, tentunya bukan dengan memberikan makanan atau apa pun, karena Sang Khalik tidak memerlukan makanan dan minuman, melainkan kita dapat mensyukuri nikmat-Nya dengan cara bersedekah dan beramal jariyah. Allahu ‘Alam bi Showab.

5. Ketika kita mengganggu semut, maka mereka akan menggigit bahkan menyengat kita.

Ada hikmah yang bisa kita ambil dari kebiasaan semut seperti ini. Pelajaran untuk tidak mengganggu orang lain terlebih orang yang tidak memiliki kuasa, baik itu miskin, cacat, jelek atau pun ketidak sempurnaan yang lainnya. Jika kita menggaggu bahkan menyakiti mereka, sesungguhnya doa mereka termasuk doa yang cepat dikabulkan, yaitu orang-orang yang teraniaya akibat perilaku buruk kita pada mereka. Pelajaran lain pada kebiasaan ini adalah mereka membalas perilaku buruk kita pada mereka dengan bereaksi langsung. Hal ini tentunya bukan berarti kita harus membalas apa yang telah mereka perbuat terhadap kita. Semut disini memberikan gambaran bahwa mereka pun bisa mengingatkan manusia pada saat manusia mengganggu dirinya, dengan menggigit atau menyengatnya. Ini memberikan gambaran pada kita bahwa orang-orang kecil ini bisa menyengat atau pun menghancurkan orang-orang yang telah menganiayanya dengan doanya yang makbul.

Apa yang saya tulis, hanyalah tulisan yang didasari oleh persepsi seorang yang bodoh dan awam terhadap agama dan tentunya sebagai manusia yang hanya bisa menebak apa yang mereka perbuat, karena kita tidak diberikan kemampuan untuk mengerti bahasa mereka. Jika perkataan saya benar, hal itu semata-mata dari Allah sebagai pemilik mutlak kebenaran, dan jika perkataan saya salah, maka hal itu semata-mata karena kekurangan dan kobodohan saya. Paling tidak kita bisa mendapatkan pencerahan bagaimana cara bersikap dan bertingkah laku terhadap sesama manusia. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita menjadi orang-orang yang beruntung, Amin.

Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan

Begitu indahnya Allah ciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dalam keadaan berpasang-pasangan. Sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa apapun yang ada di sekitar kita memiliki pasangan kata, makna, rasa dan zat. Dunia akhirat, surga neraka, pria wanita, siang malam, susah senang, baik buruk, pahit manis, berat ringan, keras lunak dan banyak lagi contoh lainnya yang memang pada dasarnya selalu akan berpasang-pasangan. Bacalah apa yang ada dalam tubuh kita, mata yang berpasangan, telinga yang berpasangan, tangan dan kaki yang berpasangan dan semuanya akan serba berpasangan. Bagi seseorang yang tidak memiliki pasangan anggota tubuhnya (maaf : cacat) baik karena bawaan sejak lahir, kecelakaan ataupun sebab lainnya, semoga mereka diberikan kesabaran dan tetap optimis menjalani hidup. Apapun yang menimpa diri kita, itulah yang terbaik di sisi Allah dah hanya Allah-lah yang Maha Mengetahuinya.

Ketika kita berada di dunia maka tidak lama lagi kita akan berada di akhirat, ketika kita berada di waktu siang maka kita akan segera menemui malam, ketika kita merasakan manis maka pahit pun akan kita jumpai, ketika kita membawa sesuatu yang berat maka suatu saat kita akan membawa yang ringan pula dan begitulah seterusnya tentang makna berpasang-pasangan. Begitu indah terdengar bila sepasang kata dan makna dipadukan, tapi mungkin akan membuat hati kita bergetar dan ketakutan bila hal itu menimpa diri kita terutama pada kondisi yang tidak kita inginkan.

Ada hal menarik yang perlu kita pikirkan dan renungkan lebih dalam ketika memaknai bahtera hidup ini. Sepasang kata dan ungkapan yang indah, belum tentu menjadikan diri kita siap untuk menerimanya. Dan ungkapan itu adalah “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Siapa yang tak kenal ungkapan ini? Siapa yang tak paham prinsip hidup ini? Dan siapa pula yang mengingkari bahwa hal ini adalah kenyataan yang ada dalam hidup kita? Semuanya akan menjawab : ” Saya mengenalnya, saya memahaminya dan saya tahu bahwa itu adalah prinsip hidup yang selalu saya pegang sejak lama.”

Mari kita berpikir sejenak dan merenungkan tentang makna terdalam yang ada dalam ungkapan “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Ketika Allah mentakdirkan segala sesuatunya dengan berpasang-pasangan, pastilah Allah telah memperingatkan kita dengan ayat-ayatnya. Bukti bahwa Allah telah memperingatkan kita adalah dengan wahyu-Nya “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 6). Dan masih banyak lagi peringatan-peringatan yang telah Allah berikan pada kita.

Kembali pada ungkapan tersebut, bagi sebagian orang, tapi mudah-mudahan tidak termasuk Anda, terkadang sulit untuk menerima kenyataan itu. Mereka mengerti makna ungkapan tersebut, tapi tidak dibuktikan dengan perilaku pada saat menimpa dirinya. Mereka sebenarnya menyadari bahwa ia sedang berada pada kondisi salah satunya entah kesulitan atau kemudaha. Pada saat mereka berada dalam kondisi kesulitan, mereka lupa bahwa kemudahan akan datang. Dan sebaliknya, jika kondisi mereka sedang berada dalam kemudahan, ia lupa bahwa sebentar lagi kesulitan pun akan menghampirinya.

Pada saat kesulitan hidup datang, mereka lupa bahwa hidupnya sedang dalam ujian dan cobaan bahkan peringatan. Mereka mengeluh dan menangis, mereka tidak terima dan berontak, mereka lari dan berputus asa. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri dan mengkambing hitamkan orang lain, mereka mencaci diri sendiri dan memaki siapa saja. Dan mereka pun sampai pada titik terlemahnya iman seseorang dengan mengatakan bahwa : ” Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mengasihaniku, mengapa aku ditimpa kesulitan dan kesusahan seperti ini?” Sampai sejauh manakah respon kita dalam menyikapi kesulitan yang datang? Sampai dimanakah keikhlasan kita pada saat kesulitan menimpa kita? Sampai sejauh manakah kita mengambil hikmah dari kesulitan yang melanda diri kita? Sekali lagi, ungkapan itu begitu indah, begitu menggetarkan hati, tapi dalam kenyataannya tidak semudah seperti yang kita bayangkan.

Begitu beratnya diri kita untuk menerima kenyataaan itu dengan ketulusan dan begitu bodohnya diri kita bila mengakui bahwa itu adalah prinsip hidup kita tapi tidak memaknai bahwa semuanya itu adalah suatu ujian, pelajaran, motivasi dan penambah kepekaan hati kita terhadap kesulitan yang orang lain rasakan. Jika ingin kesulitan kita berkurang bahkan sirna, maka belajarlah untuk bisa mengurangi kesulitan orang lain, dan Allah pun akan menghapuskan kesulitan kita. Bukankah setiap penyakit ada obatnya? Bukankah setiap permasalahan ada jalan keluarnya? Bergembiralah dan yakinkanlah dalam benak dan hati kita yang paling dalam bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan menerpa akan ada kemudahan yang menghampiri. Janganlah berputus asa karena masih banyak dari mereka yang ditimpa kesulitan jauh melebihi kesulitan yang kita alami! Berbahagialah dan teruslah berharap kemudahan dan kebahagiaan menyelimuti hidup kita wahai saudaraku!

Tidak bisa dipungkiri bahwa siapapun pasti mendambakan hidupnya selalu dalam kemudahan. Bagi mereka yang pada saat ditimpa kesulitan tetap tabah, ikhlas dan tulus sepenuh hati serta selalu menganggapnya sebagai pelajaran, peringatan juga motivasi hidupnya, maka sesungguhnya mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda bila kemudahan telah datang menghampirinya. Seakan-akan dalam hidupnya mereka tidak pernah terjadi kesulitan, melainkan hanya ujian yang dinikmati dan dilanjutkan dengan kemudahan yang sesungguhnya. Bisa jadi mereka berkata: “Aku tidak pernah mengalami kesulitan, karena aku ikhlas menerimanya. Aku tidak pernah merasakan kesusahan, karena aku tulus menjalaninya. Aku tidak pernah mengeluh karena aku tetap tegar menguasai jiwaku. Aku tidak pernah merasakan penderitaan, karena aku sedang berusaha untuk menjadi dewasa. Aku tidak pernah menangis, karena aku tidak berputus asa.” Maka berbahagialah mereka yang selalu menganggap segala kesulitan dan kesusahan adalah awal dari kemudahan. Mereka beruntung karena memiliki jiwa yang kuat dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Dan ujian pun akan muncul kembali pada saat kemudahan kita nikmati. Dikala kemudahan menghampiri kita, kita sadar bahwa kemudahan telah tiba. Hidup kita terasa lapang dan semuanya serba terang seakan tak ada penghalang. Kebutuhan ekonomi terpenuhi setiap hari, pekerjaan tetap lancar setiap saat, karir terus menanjak seiring waktu, penghargaan pun bermunculan dimana-mana, usahapun kian melambung dan melonjak tajam. Hidupnya benar-benar diselimuti dengan kemudahan dan kesenangan. Seolah-olah kemudahan itu tak mau beranjak dari diri kita walau sedetik pun. Akhirnya mereka berada dalam kesenangan dunia yang seakan-akan tak pernah putus dan tidak akan pernah mengalami kesulitan dan kesusahan.

Sungguh ironis bila kenyataan hidup seperti itu tidak dibarengi dengan pondasi jiwa yang kuat, ilmu yang memadai dan iman yang menjadi tameng. Ketika mereka berada dalam puncak kesenangan hidupnya, mereka sedikit lalai bahkan mulai pudar prinsip yang ia pegang. Dia merasa hidupnya sudah mapan dan tak ada sesuatu pun yang bisa membuatnya menderita. Keangkuhannya, kesombongannya, kecongkakannya ternyata membuka pintu hidupnya kembali pada tahta terendah dalam hidupnya. Mereka lupa dan tidak pernah memikirkan bahwa setelah ada turunan curam, maka mereka akan berhadapan dengan tanjakan terjal. Ketika diumpamakan dengan sebuah mobil, pada saat menemui turunan maka mobil harus direm dan pada saat mendapatkan tanjakan mobil pun harus digas. Rem adalah pengendali agar tidak terperosok dan gas adalah motivator agar cepat berada dalam harapan dan keinginan.

Kehidupan yang serba mudah akan dengan cepat berbalik arah menuju kesusahan dan keterpurukan. Mereka yang tidak siap menghadapi ke fase berikutnya terutama berhadapan dengan kesulitan hidup, maka mereka akan mengalami stress yang berkepanjangan bahkan gangguan jiwa. Semuanya karena mereka tidak mempersiapkan jiwa dan pikirannya dengan keikhlasan dan tidak pernah belajar dan mengambil hikmah pada saat kesulitan datang menghampirinya. Wahai saudaraku, manfaatkanlah pada masa kesulitan dan kesusahan itu sebagai ujian, pelajaran, motivasi dan hikmah yang berharga dalam rangka pendewasaan diri. Bergembiralah karena sesudah kesulitan pasti ada kemudahan !

Mencari Ketenangan di Kesunyian Malam

Setiap orang akan berbeda dalam menyikapi berbagai gejolak hidupnya. Menyikapi hidup terkadang gampang-gampang susah. Gampang untuk bicara, susah untuk dijalankan. Adakalanya kita bisa berpikiran jernih sehingga semuanya nampak indah, dan adakalanya hati kita dalam keadaan gelap sehingga keluh kesah pun tak dapat dihindari. Keluh kesah dan ketenangan silih berganti menyelimuti perjalanan hidup kita. Dan semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan ini memang selalu berputar dan berpasang-pasangan, yang menjadikannya sebagai ujian, pelajaran, cobaan dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.

Manusia dengan perbedaan cara pandangnya, selalu menanti kehadiran masa-masa yang tenang sehingga bisa menjadikannya sebagai sebuah kebahagiaan yang dalam. Masa-masa yang tenang ini akan sangat berdampak pada penjernihan akal dan pikiran manusia. Tetapi tidak sedikit pula manusia yang dapat merasakan ketenangan hati dengan tidak terpengaruh tempat dan waktu. Bagi mereka, suasana ramai maupun sepi, malam ataupun siang, semuanya sama karena sudah terpancar sinar ketenangan dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang seperti itu.

Lain dengan mereka, lain pula dengan diriku. Aku termasuk orang yang sangat menikmati kesunyian malam. Bagiku, suasana malam menjelang pagi adalah masa-masa yang selalu indah untuk aku nikmati, sungguh suasana yang sangat menenggelamkan segala kegelisahan dan kekacauan pikiranku. Teringat akan masa lalu yang penuh kebahagiaan bersama orangtua dan saudara kandungku, teringat akan masa kecilku saat bermain bersama sahabat-sahabatku, teringat masa penuh keceriaan bersama kawan-kawanku semasa sekolah. Terkadang semuanya membuat hati larut dalam kerinduan yang dalam.

Aku semakin percaya bahwa memang benar Allah memuliakan sepertiga malam terakhir bagi orang-orang yang hendak beribadah kepada-Nya. Saat itulah diri kita merasa sendirian kecuali Sang Khalik yang selalu terjaga dan menemani kita. Saat itulah diri kita merasa bukanlah apa-apa, terlalu kecil diri kita dihadapan Allah tetapi akan menjadi mulia bila kita mampu bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Ketenangan dan kedamaian hatiku terasa memuncak manakala aku mendapatkan sepertiga malam yang penuh keberkahan dan ampunan-Nya. Tiada waktu yang paling indah bagiku kecuali di sepertiga malam terakhir itu.

Dan alangkah beruntungnya jika kita bisa memanfaatkan sepertiga malam itu untuk melakukan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan kita, memohon ampunan-Nya serta mensyukuri atas segala karunia-Nya. Akan tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah, tentunya tidak akan pernah terlepas dari godaan syaitan laknatullah. Mereka menggoda manusia untuk malas bangun malam, mereka lebih menyukai manusia yang tertidur lelap dengan mimpi indahnya, mereka senang bila manusia tertidur pulas dengan selimut hangatnya. Itulah tipu daya syaitan laknatullah agar manusia tidak mengambil keuntungan besar dari sepertiga malamnya.

Segala kondisi adalah tantangan dan setiap masa adalah cobaan, namun di balik itu terdapat hikmah yang besar untuk orang-orang yang berpikir. Berpikir untuk menjawab semua tantangan, berpikir untuk teguh dalam menghadapi cobaan. Namun bagiku kesunyian malam tetaplah sebuah ketenangan yang sesungguhnya, penuh hikmah dan pahala. Lain orang lain pula cara mencari ketenangannya, dan aku selalu berharap mendapatkan ketenangan di kesunyian malam yang berujung kebahagiaan di panasnya siang.

Ada apa dengan hati ??????

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak pernah dan tak akan pernah menciptakan sesuatu apapun dengan sia-sia dan berlepas tangan terhadap apa yang telah Dia ciptakan. Begitu juga dengan diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka segala sesuatu tercipta menyertai kesempurnaan fisiknya, dan salah satunya adalah hati yang sangat luar biasa peranannya bagi manusia, sebuah kendali hidup yang akan membawa manusia ke dalam kenikmatan sesungguhnya atau kenikmatan sesaat, sebuah kebahagiaan hakiki atau kebahagian fana, dan bisa menjadi penentu apakah Surga atau Neraka yang akan kita tempati dengan kekekalannya. Maha Suci Allah dengan segala penciptaan-Nya.

Ada apa dengan hati? sebuah anugerah yang memerlukan ilmu dan keimanan untuk menggalinya serta mengetahui hakikatnya. Dan kesempurnaan manusia itu adalah dengan diciptakan-Nya hati sebagai pengendali utama perilaku hidup. Manusia memiliki tujuan dalam proses penciptaan-Nya, yaitu selain tugas utama untuk beribadah, maka hal lain yang menyertai kewajiban itu serta yang perlu kita tindaklanjuti selanjutnya adalah menelaah bagian-bagian penting yang melekat pada proses ibadah itu sendiri, yaitu keberadaan hati manusia sebagai bagian penting organ tubuh manusia, baik secara lahiriah maupun batiniahnya.

Allah Yang Maha Kuasa atas tiap-tiap mahluk-Nya dan Dialah sebagai Sang Pencipta apapun yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia menciptakan manusia dalam berbagai kesempurnaan anggota tubuhnya dengan tidak sia-sia, serta apapun yang ada dalam jiwa dan raga manusia akan dimintai pertanggungjawabannya, Dia juga membebankan kewajiban terhadap kita dengan perintah dan larangan-Nya. Lalu Dia mewajibkan kita untuk memahami petunjuk-Nya, baik secara rinci maupun global. Dia juga membagi mereka ke dalam orang-orang yang selamat dan orang-orang yang celaka. Allah menempatkan kita pada suatu keadaan dan tingkat yang berbeda sesuai dengan keimanan dan ketaqwaannya. Dan Dia pun memberikan kepada kita bahan atau sarana untuk merealisasikan ilmu dan amal yakni hati, pendengaran, penglihatan, mulut, dan anggota tubuh lainnya sebagai nikmat dan anugerah-Nya dan kesemuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa ‘ : 36)

Dan inilah hati yang saya maksudkan, karena hati bagi segenap tubuh manusia adalah laksana raja yang mengatur bala tentaranya, yang semua perbuatan kita berasal dari perintahnya, lalu ia gunakan sekehendaknya, sehingga semuanya berada di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan dari padanya juga sebuah kesesatan maupun istiqamah akan tercipta serta dari padanya pula sebuah niat termotivasi atau bahkan menjadi sirna. Maka karena hal inilah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :

“Ketahuilah, sesunguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh.” (H.R. Bukhari Muslim)

Dari keterangan di atas, maka hati itu adalah rajanya. Dialah pelaksana dari apa yang diperintahkan, yang menerima hidayah-Nya, dan tidaklah suatu amalan menjadi lurus dan benar kecuali bersumber dari tujuan dan maksudnya. Hati inilah yang paling bertanggungjawab terhadap semuanya, sebab setiap pemimpin akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Maka sudah sepantasnyalah kita memperhatikan dan meluruskan hati sebagai prioritas utama dan pertama, kemudian kita berusaha untuk mendeteksi serta mengobati berbagai penyakit yang ada dalam hati kita.

Pada saat musuh Allah dan musuh kita semua, yaitu Iblis laknatullah mengetahui bahwa poros dan sandarannya adalah hati, maka ia membisik-bisiknya, menghembuskan aroma kejahatannya, membuat menawan berbagai bentuk subhat juga maksiat, menggodanya dalam berbagai keadaan dan amalan yang menghalanginya dari jalan yang benar, menghamparkan sebab-sebab kesesatan yang memutuskannya dari sebab-sebab taufiq, dan memasang untuknya jaring serta tali agar tak ada satu pun yang selamat dari tipu dayanya. Dan tidak ada tipu daya yang akan menyebabkan menusia terjerembab kedalamnya, kecuali dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencari sebab-sebab keridhaan-Nya, menyandarkan dan menghampiri-Nya dengan menghinakan diri di hadapan-Nya namun selalu berharap dari Kasih Sayang-Nya. Karena tanpa pertolongan Allah, kita tidaklah memiliki kuasa untuk menahan dari segala tipu daya Syaitan laknatullah. Dan akan sangat beruntunglah mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapat jaminan-Nya sebagaimana disebutkan dalam Ayat-Nya :

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka.” (Q.S. Al-Hijr : 42)

Dan inilah sesungguhnya yang akan memutuskan hubungan antara seorang hamba dengan Syaitan laknatullah. Sebuah penghambaan diri terhadap Tuhannya dan keikhlasan yang selalu melekat dalam hatinya. Dua unsur ini merupakan hal yang akan dijauhi godaan Syaitan laknatullah dan tidak ada kuasa mereka terhadapnya. Dan orang yang bersemayam keikhlasan dalam hatinya, maka meraka termasuk golongan dimana Syaitan laknatullah tidak bisa mendekatinya, dan itulah perkataan dari musuh kita. Karena jika hakikat Ubudiyah dan keikhlasan telah merasuk ke dalam hatinya, maka sesungguhnya merekalah orang-orang yang paling dekat dengan Allah dan dengan demikian ia akan termasuk dalam pengecualian ayat dimana Iblis laknatullah tidak akan mampu menggoda suatu golongan manusia yang dalam hatinya tertanam keikhlasan yang kuat, sebagaimana perkataan mereka yang diabadikan dalam Firman Allah :

“Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad : 83)

Maka jagalah hati kita untuk senantiasa menghambakan diri kepada Allah, bukan pada manusia apalagi kenikmatan duniawi, bukan pada kekuasaan semata terlebih kenikmatan syahwat belaka. Dan tanamkanlah keikhlasan sedalam-dalamnya pada diri kita, agar Syaitan laknatullah tidak mampu mendekati, mengajak, bahkan membawa kita kepada kesesatan yang nyata, kepada kemaksiatan yang akan menyebabkan kenistaan seorang hamba. Dan bila kita mengerti dan memahami hakikat hati yang sesungguhnya, maka insya Allah kita akan mengetahui berbagai penyakit hati dan obatnya serta berbagai bisikan Syaitan laknatullah yang merupakan musuh abadi kita. Dan Insya Allah kita akan mengetahui keadaan hati kita yang sesungguhnya, yang merupakan pengendali utama tubuh dan amalan kita. Karena sesungguhnya keadaan hati yang buruk adalah berasal dari tujuan hati yang buruk, lalu dengan perbuatan buruk itu hati menjadi keras dan penyakitnya itu akan bertambah terus hingga akhirnya menjadi hati yang mati. Hati yang jauh dari kebenaran, hati yang jauh dari penciptaan awalnya, hati yang jauh dari nur Allah sehingga menjadi hati yang tiada berguna. Maka tinggalah ia tanpa kehidupan dan penerang, dan ia telah berada dalam kegelapan yang sesungguhnya, sebuah kehidupan tanpa pelita sedikit pun. Dan akhirnya mereka akan termasuk golongan orang-orang yang merugi, sengsara di dunia dan mendapatkan siksa di akhirat kelak serta menjadikan dirinya sebagai teman Syaitan laknatulah di neraka yang kekal abadi tak berujung. Naudzu Billah min Dzalik.

untuk itu, marilah kita bersama-sama berusaha untuk mengerti hakikat hati ini, agar kita tidak menyesal suatu saat nanti, dimana tidak ada lagi amalan ibadah yang bisa kita perbuat, jikalau hari telah usai. Dan marilah kita saling mengingatkan di antara kita, sebagai kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya.

Jumat, 19 Maret 2010

BELAJAR KECERDASAN EMOSI

Apa itu kecerdasan emosi? Menurut Wikipedia, Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.
Mengapa begitu penting? Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, masihkah berharap bahwa keputusan dan tindakan kita juga baik?
Dari berbagai literatur, saya menemukan ada 5 dasar kecerdasan emosi. Kelima dasar itu adalah:
1. Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam hidup Anda.
2. Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.
3. Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.
4. Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang mereka rasakan.
5. Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi yang tersirat
Lalu siapa teladan kita dalam hal kecerdasan emosi? Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan, teladan kita adalah Rasulullah saw. Banyak literatur yang membahas kecerdasan emosi, tetapi Al Quran dan Hadits-lah sumber rujukan utama kita.
Jika kita meneladani bagaimana cara Rasulullah saw berinteraksi dengan orang-orang sekitar beliau, dengan keluarga, bahkan dengan orang-orang yang menentang beliau, kita bisa petik bagaimana kecerdasan emosi beliau yang mengagumkan. Itulah praktek utama kecerdasan emosi

INDAHNYA PERSAHABATAN KARENA ALLAH

Rasulullah saw bercerita: Seseorang bersilaturahmi kpd saudaranya karena Allah. Allah SWT. Menyuruh malaikat bertanya kpdnya, "Hendak kemana saudara?" Ia menjawab, ""aku akan mengunjungi saudaraku si fulan"
"Karena apa? Karena kau perlu sesuatu?"
"Tidak"
"Karena persahabatan kalian berdua?"
"Tidak"
"Atau, karena nikmat orang itu yang ada di tanganmu?"
"Tidak juga."
"Lantas, mengapa?"
"Sebab aku mencintainya karena Allah"
"Sebenarnya Allah mengirimku kepadamu untuk memberi kabar bahwa Allah mencintaimu, karena cinntamu kpd saudaramu itu. Karena itu, Allah mewajibkan surga untukmu"

dikutip dari tulisan Afiq R Scott tgl 28 januari 2010