Kamis, 22 Juli 2010

PARADIGMA PENDIDIKAN SEKS SEBAGAI PESAN MORAL


‘Seks itu adalah suatu pesan moral’, kata seorang tokoh agama. Benarkah demikian? Kalau melihat kondisi sekarang ini, pesta seks dan narkoba, kelakuan asusila, kemudian ada yang sampai merekamnya di dalam ponsel mulai menjadi gaya hidup. Selanjutnya, kasus-kasus seputar MBA (Married by Accident), seks bebas (berhubungan seks sebelum nikah, menjual keperawanan, ganti-ganti pasangan dsb), arisan seks, homoseksual/lesbian, incest (hubungan seksual sedarah), kekerasan seksual, penyakit menular seksual bahkan sampai aborsi kini banyak menjadi konsumsi media massa.

Pada tahun 1982, penelitian Jhon Hokins memperkirakan bahwa sekitar 80% wanita yang memasuki perguruan tinggi di Amerika Serikat telah berhubungan seksual paling tidak sekali. Bagaimana dengan di Indonesia? Hasil polling dari 200 mahasiswa yang duduk di semester I, II, dan III di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung, 10% di antaranya mendapat informasi mengenai seks dari situs porno dan 60% lainnya dari film porno. Sisanya dari koran, tabloid, serta majalah. Lalu dari 200 responden itu, 50% diantaranya telah melakukan hubungan badan satu kali dan 20% di antaranya lebih dari dua kali atau berganti pasangan (Pikiran Rakyat, 26 Mei 2006). Sebuah baseline survey di Semarang yang melibatkan 127 responden, yang dilakukan Pilar-PKBI Jawa Tengah yang bekerjasama dengan Tim Embrio 2000, pada tahun 2000 di Semarang menujukkan bahwa 48% responden pernah meraba daerah sensitif saat berpacaran, 28% responden telah melakukan petting, dan 20% melakukan hubungan seksual. Selanjutnya, dari survey yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Indonesia, angka kehamilan yang tidak diinginkan mencapai 5,3 juta per tahun. Tingkat aborsi pun cukup tinggi, yakni sekitar 2.3 juta per tahun. Dan infeksi HIV/AIDS lebih dari 50% terjadi pada kelompok umur 15 hingga 29 tahun

Kalau begitu apakah seks sebagai pesan moral masih dapat dipertanggungjawabkan? Untuk memahami masalah ini kita perlu mengkritisi dulu : apakah pada hakikatnya seks itu buruk? Tentu saja tidak. Seks merupakan bagian dari kehidupan mahluk hidup. Naluri seksual merupakan sunatullah yang kuat dan amat penting bagi kelangsungan eksistensi umat manusia. Namun seks seperti apa yang mengandung pesan moral tersebut? Mungkin kita sudah sama-sama tahu, bahwa hubungan seksual yang baik itu adalah yang tersalurkan pada jalur yang benar, yakni di dalam pernikahan yang sah. Agama pun bahkan menganggap hubungan seksual di dalam pernikahan itu sebagai ibadah.

Akan tetapi, kita tidak bisa memungkiri bahwa masa remaja adalah masa ingin mencoba sesuatu, masa ingin mencari jati diri. Pada masa ini, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Dalam kondisi tersebut, remaja sesungguhnya membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan perilaku seksualnya. Kepada siapa mereka selayaknya mengadukan problema yang mereka hadapi itu? yang paling dekat dengan mereka tentu saja orang tua.

Namun sayangnya, dalam budaya Timur hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Masalah baru pun muncul, bukankah memang isu yang selalu ditutup-tutupi malahan semakin menarik untuk dibicarakan? Percaya atau tidak, remaja sebenarnya "diam-diam" sudah mencari informasi yang menyesatkan tentang seks dari pornografi. Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Orangtua sering tak menyadari, bahwa selama ini anak-anak mereka dianggap lugu dan pendiam, ternyata di luar sana, pergaulan mereka lebih gila. Sudah menjadi rahasia umum, ketika kita berinteraksi dengan teman sebaya, ungkapan yang berbau seksual biasa terjadi. Dari mana remaja tahu tentang seks? Bisa jadi dari internet, televisi, majalah, dan bentuk-bentuk media lain, yang pada akhirnya menjadi "guru seks" para remaja. Apalagi globalisasi menyebabkan aksesibilitas remaja terhadap pornografi menjadi lebih mudah. Ribuan situs porno di internet serta media-media lain, seperti tabloid porno, komik hentai (komik porno Jepang) yang bertebaran di sekeliling remaja menjadi salah satu stimulan pergeseran perilaku para remaja saat ini. Menurut Miraj DK, pemerhati masalah seksual, pornografi dan pornoaksi kini seperti menjamur tapi bukan jamur di musim hujan : merebak nan semarak jumlah dan bentuknya. Harganya pun terbilang murah , akses untuk mendapatkannya juga mudah : sudah dijajakan layaknya kacang rebus.

Merebaknya pornografi sungguh amat memprihatinkan, bisa berimplikasi terhadap dekadensi moral, kriminalitas, dan kekerasan seks yang dilakukan remaja. Terlebih lagi, media massa merupakan sarana yang paling efektif untuk mempromosikan sesuatu. Karena itu keluarga maupun lembaga pendidikan perlu memberikan filter kepada para remaja. Seperti apa bentuknya?

Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan anatomi seksual, pembiakan seksual, perhubungan seks, dan aspek-aspek lain kelakuan seksual manusia (Wilkipedia Indonesia). Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Kata "pendidikan" berarti "proses pengubahan sikap dan tata laku kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Artinya di sini diperkenalkan pengetahuan fisiologi dan pemupukan etika seks.

Dalam lembaga pendidikan, pendidikan seks akan memberikan pengetahuan dasar tentang kebersihan dan perlindungan diri, dengan cara ilmiah dan mudah dimengerti : menjelaskan kepada para siswa fisiologi masa puber serta perubahan psikologi dan emosi; ekspresi kelainan fisiologi seks, serta cara pengaturan diri dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku seks tanpa perlindungan; menanamkan kesadaran keamanan seks para siswa serta rasa tanggung jawab mereka terhadap perilaku seks (Siaran Bahasa Indonesia Radio Cina Internasional). Tentu saja pendidikan seks bukanlah yang lebih menekankan pada sisi aman dan sehat dalam berhubungan seks bebas, tapi pendidikan seks yang menjaga harga diri dan kehormatan diri (Nurhayati Syarifuddin, S.Pd., disampaikan pada acara Seminar perempuan dengan Tema Seksologi; Antara Perlu dan Tabu 22 November 2007). Pendidikan seks bertujuan untuk mengetahui fungsi organ seks, tanggungjawabnya, halal-haram yang berkaitan dengan organ seks, dan panduan menghindari penyimpangan prilaku seksual sejak dini. Jadi di sini akan diajarkan tentang nilai keluarga dan agama.

Menurut Kartono Mohamad, pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab (disampaikan dalam Diskusi Panel Islam Dan Pendidikan Seks Bagi Remaja, 1991). Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan (Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987).

Namun demikian tenggung jawab keberhasilan pendidikan seks bukanlah semata-mata di tentukan oleh kurikulum sekolah, tetapi juga peran keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dalam tataran keluarga, alangkah baiknya orang tua memposisikan diri sebagai sahabat terbaik. Diskusikan dengan anak tentang perilaku seks yang tidak sehat dan ilegal serta dengan memberi sentuhan kasih sayang. Maka pendidikan seks bukan hanya sebagai fungsi edukasi, tetapi juga fungsi konsultasi. Perlu juga ditekankan, keluarga jangan membiarkan remaja malas beraktivitas. Dalam mengalihkan penyaluran hasrat seksualnya, remaja lebih baik didorong melakukan kesibukan untuk mengejar prestasi, baik berprestasi di dalam maupun di luar dunia akademisnya.

Dalam tataran negara, Kartono (1994) menyarankan agar format penyusunan dan penyajian di media massa diatur, sehingga materi maupun pesan yang disampaikan benar-benar bermuatan nilai-nilai pendidikan. Pemerintah bisa membuat regulasi dengan meminimalkan hal-hal yang merangsang, baik di media massa maupun peredaran VCD porno. Dalam hal ini sebenarnya Pemerintah bukan tidak mampu, tetapi terkesan tidak mau.

Jelaslah bahwa dampak tidak adanya pendidikan seks : anak memperoleh keterangan didapat dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun dalam kenyataannya, masih banyak kalangan di negeri ini yang menentang diadakannya pendidikan seks. Mengapa? Jawaban yang paling mungkin karena mereka menganggap pendidikan seks sebagai produk Barat yang sangat liberal. Ada ketakutan bahwa pendidikan seks tidak lain adalah sarana untuk mendukung pergaulan bebas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ni negara-negara maju, pendidikan seks lebih diarahkan kepada keamanan melakukan hubungan seks dari penyakit, sehingga seolah-olah ‘seks itu boleh asal aman’. Tapi apakah bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan reproduksi, justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual? Kalau konsep ‘seks itu boleh asal aman, kemungkinan jawabannya adalah pendidikan seks bisa mendorong pergaulan bebas. Tetapi pendidikan seks di Indonesia tidak perlu mengikuti pola yang diterapkan Barat tersebut. sekali lagi ditekankan di sini bahwa, bangsa kita punya banyak nilai-nilai, dan dalam pendidikan seks inilah nilai-nilai itu mendapatkan kesempatan dipahami remaja. Jadi, ‘seks itu merupakan pesan moral’, karena di dalam hubungan seks yang benar, manusia akan diajak untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar